Pengantar Pendidikan
PERKIRAAN
DAN ANTISIPASI TERHADAP
MASYARAKAT
DAN MASA DEPAN
DOSEN PEMBIMBING
:
Riska Mahendra
Putra, S.pd., M.Kom
DI SUSUN OLEH :
1. Luqman
Khairullah
2. Hardian
3. First
rahmad akil ramadana
4. M.nur
lukman hakim
PENDIDIKAN
TEKHNOLOGI INFORMASI
STKIP PGRI
SITUBONDO
TAHUN AKADEMIK
2016 – 2017
DAFTAR ISI
Daftar Isi
…………………………………………………………………… ii
Bab I
PENDAHULUAN
……………………………………………… 1
A. Latar Belakang
……………………………………………………. 1
B. Tujuan ………………………………………….…………………. 2
C. Manfaat …………………………… ……………………………. 3
Bab
II PEMBAHASAN ……………………… ……………………… 3
A. Perkiraan
Masyarakat Masa Depan
…………………....……….. 3
B. upaya
pendidikan dalam mengantisipasikan masa depan ..........
4
Bab III PENUTUP ……………………………………………………….
11
A. Kesimpulan
………………………………………………………… 11
Daftar
Pustaka
……………………………………………………………. 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Melalui
pendidikan setiap masyarakat akan melestarikan nilai-nilai luhur sosial
kebudayaannya yang telah terukir dengan indahnya dalam sejarah bangsa.
Melalui pendidikan juga diharapakan dapat
ditumbuhkan kemampuan untuk menghadapi tuntutan objektif masa kini, baik
tuntutan dari dalam maupun tuntutan karena pengaruh dari luar masyarakat yang
bersangkutan. Nantinya melalui pendidikan akan ditetapkan langkah-langkah yang
dipilih masa kini sebagai upaya mewujudkan aspirasi dan harapan di masa depan.
Masa lalu yang telah tampak adanya pergeseran nilai-nilai merupakan hasil
adanya perubahan sosial, kita harus mulai menyadari dan terus berjuang di
bidang pendidikan tidak hanya aspek kognitif
yang di utamakan, tetapi sampai pada aspek afektif dan psikomotornya. Dengan
demikian kita dapat mengantisipasi terhadap masyarakat masa depan di era
globalisasi ini.
B. Tujuan
1)
Memahami beberapa kemungkinan keadaan masyarakat di masa depan, serta peranan faktor-faktor
globalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), arus
komunikasi yang semakin padat dan cepat, serta kebutuhan yang meningkat dalam
layanan profesional terhadap masyarakat di masa depan tersebut.
2) Memahami
berbagai upaya pendidikan untuk mengantisipasi masa depan, baik yang berkenan
dengan penyiapan manusia maupun yang berkenan dengan perubahan sosiokultural,
serta pengembangan sarana pendidikan untuk mendukung upaya-upaya yang sedang
atau akan dilaksanakan.
C. Manfaat.
1)
Bagi mahasiswa calon tenaga kependidikan, utamanya guru, kajian tentang
masyarakat masa depan tersebut berdampak ganda, yaitu untuk dirinya sendiri
serta pada gilirannya kelak untuk siswa-siswanya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkiraan
Masyarakat Masa Depan
Pendidikan selalu berlangsung dalam suatu latar
kemasyarakatan dan kebudayaan tertentu. Kebudayaan dimaksudkan dalam arti luas
yakni keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan
belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu
(Koentjaraningrat, 1974: 19). Kebudayaan itu dapat:
1)
Berwujud ideal yakni ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan,
dan sebagainya
2)
Berwujud kelakuan yakni kelakuan berpola dari manusia dalam
bermasyarakat
3)
Berwujud fisik yakni benda-benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat
1974: 15-22)
Pengertian
kebudayaan yang begitu luas seringkali dipecah
lagi dalam unsur-unsurnya, dan sering dipandang sebagai unsur-unsur universal
dari kebudayaan, yakni:
a)
Sistem religi dan upacara keagamaan
b)
Sistem dan organisasi kemasyarakatan
c)
Sistem pengetahuan
d)
Bahasa
e)
Kesenian
f)
Sistem mata pencaharian
g)
Sistem teknologi dan peralatan
Perubahan
dari salah satu unsur-unsur tersebut akan berdampak pada keseluruhan
unsur-unsur kebudayaan lainnya.
Perkembangan masyarakat beserta kebudayaannya
sekarang ini makin mengalami percepatan serta meliputi seluruh aspek kehidupan
dan penghidupan manusia. Perubahan yang cepat tersebut mempunyai beberapa
karateristik umum yang
dapat dijadikan petunjuk sebagai ciri masyarakat masa
depan. Beberapa diantaranya adalah:
1)
Kecenderungan globalisasi yang makin cepat
2)
Perkembangan iptek yang makin cepat
3)
Perkembangan arus informasi yang semakin padat dan cepat
4)
Kebutuhan/tuntutan peningkatan layanan profesional dalam berbagai segi
kehidupan manusia.
Pemahaman
tentang keadaan masyarakat masa depan tersebut akan sangat penting sebagai
latar depan segala kebijakan dan
upaya pendidikan masa kini dan masa yang akan datang. Kajian masyarakat masa
depan itu semakin penting jika diingat bahwa pendidikan selalu merupakan
penyiapan peserta didik bagi peranannya di masa yang akan datang. Dengan
demikian, pendidikan seharusnya selalu mengantisipasi keadaan masyarakat masa
depan.
1. Kecenderungan Globalisasi
Istilah globalisasi (asal kata: global yang berarti secara umumnya, utuhnya, kebulatannya) bermakna bumi sebagai satu keutuhan
seakan-akan tanpa tapal batas administrasi negara, dunia menjadi amat
transparan, serta saling ketergantungan antarbangsa di dunia semakin besar,
dengan kata lain: Menjadikan dunia sebagai satu keutuhan, satu kesatuan.
Menurut Emil Salim terdapat empat bidang kekuatan gelombang globalisasi yang
paling kuat dan menonjol daya dobraknya, yakni bidang IPTEK, ekonomi,
lingkungan hidup, dan pendidikan.
a.
Bidang Iptek yang mengalami perkembangan semakin dipercepat, utamanya
penggunaan berbagai teknologi canggih seperti komputer dan satelit.
b.
Bidang ekonomi yang mengarah ke ekonomi regional dan atau ekonomi global
tanpa mengenal batas-batas negara.
c.
Bidang lingkungan hidup telah menjadi bahan pembicaraan dalam berbagai
pertemuan tingkat Internasional.
d.
Bidang pendidikan dalam kaitannya dengan identirtas bangsa termasuk
budaya nasional dan budaya-budaya nusantara.
2. Perkembangan IPTEK
Perkembangan iptek yang makin cepat dalam era
globalisasi merupakan salah satu ciri utama dari masyarakat masa depan.
Globalisasi perkembangan IPTEK tersbut dapat berdampak positif ataupun
negative, tergantung
pada kesiapan bangsa beserta
kondisi social- budayanya untuk menerima limpahan informasi atau teknologi
tersebut. Segi positifnya antara lain memudahkan untuk mengikuti perkembangan
iptek yang terjadi di dunia. Sedangkan segi negatifnya akan timbul apabila
kondisi sosial-budayanya belum siap menerima
limpahan itu ( Pratiwi Sudarsono, 1990: 14-15).
Percepatan perkembangan IPTEK tersebut terkait
dengan landasan ontologis, epistemologis,
dan aksiologis (Filsafat Ilmu, 1981: 9-15). Segi landasan ontologis, objek
telaahan ialah berupa pengalaman atau segenap ujud yang dijangkau lewat alat
indra yang telah mengalami perkembangan yang pesat karena didapatkannya peranti
(device) yang membantu alat indra tersebut. Dari segi epistemologis, cara yang
dipakai untuk memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan tersebut
telah menglami perkembangan yang pesat. Landasan aksiologis atau untuk apa
iptek itu dipergunakan, yang mempersoalkan tentang penggunaan iptek tersebut
secara moral tertuju pada kemaslahatan manusia. Kegiatan
pengembangan dan pemanfaatan IPTEK, antara lain:
a. Penelitian
dasar (basic research)
b. Penelitian terapan (applied
research)
c. Pengembangan
teknologi (technological development)
d. Penerapan teknologi
3. Perkembangan Arus Komunikasi yang
Semakin Padat dan Cepat
Salah satu perkembangan iptek
yang luar biasa adalah yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi, utamanya
satelit komunikasi. Ada beberapa istilah yang diapakai dalam menjelaskan
perkembangan global yang cepat pada akhir abad ke-20 ini,
antara lain: Gelombang Ketiga (Alvin Toffler), Zaman Pasca-Industri (John
Naisbit), Dunia Tanpa Batas (Kenichi Ohmac: the Borderless Word), Revolusi
Komunikasi (Frederick Williams: The Communications Revolution), dan sebagainya.
Pada umumnya bentuk komunikasi
langsung (verbal ataupun nonverbal) dikenal sebagai komunkasi antarpribadi
(interpersonal communication), baik komunikasi antardua orang (dyadic
communication), maupun dalam kelompok kecil (small gruop communication) dengan
ciri pokok adanya dialog di antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Sedangkan
bentuk komunikasi monolog adalah komunikasi publik, yang dibedakan atas
komunikasi pembicaraan-pendengar (speaker-audience communication). Misalnya
pada rapat umum dan komunikasi massa seperti surat kabar dan lain sebagainya.
4. Peningkatan Layanan Profesional
Salah satu ciri penting
masyarakat masa depan adalah meningkatnya kebutuhan layanan profesional dalam
berbagai bidang kehidupan manusia.
Profesi adalah suatu lapangan
pekerjaan dengan persyaratan tertentu, “suatu vokasi khusus yang mempunya
ciri-ciri: Expertise (keahlian), responsibility (tanggungjawab), corporateness
(kesejawatan)” (Huntington, 1964, dari Nugroho Notosusanto, 1984: 16).Robert W.
Richey (1974) dan D. Westy-Gibson (1965) mengemukakan ciri-ciri profesi (dari
Profesionalisasi Jabatan Guru, 1983: 4-6) yaitu:
a.
Lebih mengutamakan pelayanan kemanusiaan yang ideal, dan layanan itu
memperoleh pengakuan masyarakat (harus dilakukan oleh pemangku profesi
tersebut)
b.
Terdapat sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan dari sejumlah
teknik dan prosedur yang unik, serta diperlukan waktu yang relatif panjang
untuk mempelajarinya sebagai periode persiapan yang sengaja dan sistematis agar
mampu melaksanakan layanan itu (pendidikan/pelatihan prajabatan)
c.
Terdapat suatu mekanisme saringan berdasarkan kualifikasi tertentu, sehingga hanya
yang kompeten yang dieprbolehkan melaksanakan layanan profesi itu
d.
Terdapat suatu kode etik profesi yang mengatur keanggotaan, serta
tingkah laku, sikap dan cara kerja dari anggotanya itu
e.
Terdapat organisai profesi yang
akan berfungsi menjaga/meningkatkan layanan profesi, dan melindungi kepentingan serta kesejahteraan
angotanya
f.
Pemangku profesi memandang profesinya sebagai suatu karier hidup dan
menjadi seorang yang relatif permanen, serta mempunyai kemandirian dalam
melaksanakan profesinya dan utnuk mengembangkan kemampuan profesionalnya sendiri.
Howsam, et.al. (1976: 7-9)
mengemukakan suatu pandangan historis tentang profesi dengan mengemukakan lima
lingkaran konsentris dari titik tengah berturut-turut:
1.
Profesi tertua yakni hukum, kesehatan, teologi, dan dosen.
2.
Profesi baru yakni arsitektur, insinyur (engineering), dan optometri.
3.
Pekerjaan yang segera diakui segai profesi (emergent professions),
umpamanya pekerja sosial yang masih semiprofesional akan segera diakui sebagai
profesional
4.
Semi profesional
5.
Pekerjaan biasa yang tidak berusaha memperoleh status profesional
Mc Cully (1969, dari T. Raka
Joni, 1981:5-8) mengemukakan enam tahap dalam proses profesionalisasi yakni:
a.
Penetapan dan pemantapan layanan unik yang diberikan oleh suatu profesi
sehingga memperoleh pengakuan masayarakat dan pemerintah. Contoh: Layanan Unik
dari para dokter, dan apabia dilakukan oleh pihak lain, akan dituduh sebagai
“dokter palsu”.
b.
Penyepakatan antara kelompok profesi dan lembaga pendidikan prajabatan
tentang standar kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh setiap calon
profesi tersebut.
c.
Akreditas, yakni pengakuan resmi tentang kelayakan suatu program
pendidikan prajabatan yang ditugasi menghasilkan calon tenaga profesi
bersangkutan. Penilaian kelayakan itu meliputi antara lain: Tujuan dan filosofi
pendidikannya, isi program, fasilitas pendukung ketenagaan, pelaksanaan
program, dan sebagainya.
d.
Mekanisme sertifikasi dan pemberian izin praktek, yaitu merupakan
pengakuan resmi kepada seseorang yang memiliki kompetensi yang diprasyaratkan oleh
profesi tertentu.
e.
Baik secara perseorangan, maupun
secara kelompok, pemangku profesi bertanggungjawab penuh terhadap segala asepk
pelaksanaan tugasnya yakni kebebasan mengambil keputusan secara profesional.
f.
Kelompok profesional memiliki kode etik yang berfungsi ganda, yaitu:
1)
Perlindungan terhadap masyarakat agar memperoleh layanan yang bermutu
2)
Perlindungan dan pedoman peningkatan kualitas anggota.
B. Upaya pendidikan dalam mengantisipasikan
masa depan
Pendidikan berkewajiban mempersiapkan generasi baru
yang sanggup menghadapi tantangan zaman baru yang akan datang. Seperti telah
dikemukakan, manusia yang melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya
disebut melek kebudayaan, yang mampu “think
globally but act locally”.
Pengembangan pendidikan dalam masyarakat dalam
masyarakat yang sedang berubah dengan cepat haruslah dilakukan secara
menyeluruh dengan pendekatan sistematis-sistematik. Pendekatan sistematis adalah pengembangan
pendidikan dilakukan secara teratur melalui perencanaan yang bertahap, sedang
sistematik menunjuk pada pendekatan sitem dalm proses berpikir yang mengaitkan
secara fungsional semua aspek dalam pembaruan pendidikan tersebut (Depdikbud,
1991/1992a: 21). Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan kunci
keberhasilan bangsa dan negara dalam masa yang akan datang. Oleh karena itu
kajian selanjutnya akan membahas tentang tuntutan manusia masa depan, dan upaya
mengantisipasi masa depan.
1. Tuntutan bagi Manusia Masa Depan
(Manusia Modern)
Dalam
membicarakan tentang perkiraan masyarakat masa depan, secara tersirat telah
pula dibicarakan tentang tantangan-tantangan yang akan dihadapi manusia masa
depan. Tantangan tersebut merupakan gejala konstelasi dunia masa kini dan masa
depan, oleh karena itu, manusi Indonesia perlu berupaya untuk menyesuaikan diri
sehingga menjadi manusia modern. Setiap upaya manusia untuk menyesuaikan diri
terhadap konstelasi dunia pada masanya (masa lampau, kini, ataupun datang)
adalah proes modernisasi.
Berdasarkan
acuan normatif yang berlaku (UU RI No. 2/1989beserta peraturan pelaksanaanya)
telah ditetapkan rumusan tujuan pendidikan di Indonesia, yang dapat dianggap
sebagai profil manusia Indonesia di masa depan. Dalam penjelasan PP RI No: 28
Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (yakni penjelasan pasal 3) dikemukakan
rincian tujuan-tujuan pendidikan dasar tersebut (Undang-Undang, 1992:79-80)
sebagai berikut:
a.
Pengembanga kehidupan siswa sebagai pribadi sekurang-kurangnya mencakup
upaya untuk:
1)
Memperkuat dasar keimanan dan ketakwaan
2)
Membiasakan untuk berperilaku yang baik
3)
Memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar
4)
Memelihara kesehatan jasmani dan rohani
5)
Memberikan kemampuan untuk belajar
6)
Membentuk kemampuan untuk belajar
b.
Pengembangan kehidupan peserta didik sebagai
anggota masyarakat sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk:
1)
Memperkuat kesadaran hidup beragama dalam bermasyarakat
2)
Menumbuhkan rasa tanggungjawab dalam masyarakat
3)
Memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk
bereran serta dalam kehiduoan bermasyarkat
c.
Pengembangan kehidupan peserta didik sebagai warga
negara sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk:
1)
Mengembangkan perhatian dan pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebaga
warga negara Republik Indonesia
2)
Menanamkan rasa ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan bangsa dna
negara
3)
Memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk
berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
d.
Pengembangan kehidupan peserta didik sebagai anggota umat manusia
mencakup upaya untuk:
1)
Meningkatkan harga diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat
2)
Meningkatkan pengertian kesadaran
tentang hak asasi manusia
3)
Memberikan pengertian tentang ketertiban dunia
4)
Meningkatkan kesdaran pentingnya persahabatan antarbangsa
e.
Mempersiapkan peserta didik untuk mengisi
pendidikan menengah dalam menguasai kurikulum yang diisyaratkan.
Untuk
jenjang pendidikan dasar hal itu berarti bahwa kemampuan dasar sebagai manusia
Pancasila yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar akan siap untuk:
i. Memasuki
lapangan kerja sebagai manusia pembangunan setelah melalui orientasi dan atau
pelatihan tambahan sesuai dengan kebutuhan.
ii. Melanjutkan
ke pendidikan menengah.
Tuntutan
manusia indonesia di masa depan, setelah kemampuan dasar tersebut, terutama
diarahkan kepada pembekalan kemampuan yang sangat diperlukan untuk menyesuaikan
diri dengan keadaan di masa depan tersebut. Beberapa di antaranya seperti:
a)
Ketanggapan terhadap pelbagai masalah sosial, politik, kultural, dan
lingkungan.
b)
Kretifitas di dalam menemukan alternatif pemecahannya.
c)
Efisiensi dan etos kerja yang tinggi
Bertolak
dari tesis ketidakpastian, Makaminan Makagiansar (1990: 5-6) mengemukakan
pentingnya mengembangkan empat hal pada peserta didik, yaitu:
a.
Kemampuan mengantisipasi (anticipate) perkembangan berdasarkan ilmu
pengetahuan
b.
Kemampuan dan sikap untuk mengerti dan
mengatasi situasi (cope)
c.
Kemampan mengakomodasi (acomodate), utamanya perkembangan iptek serta perubaan yang
diakibatkannya
d.
Kemampuan mereorientasi (reorient), utamanya kemampuan seleksi (filter)
terhadap arus informasi yang membombardirnya.
Akhirnya
dikemukakan pendapat Mayjen Sajidiman (1972: 10-11) yang menekankan kemampuan
yang diperlukan manusia Indonesai berdasarkan fungsinya, yakni:
a)
Pekerja yang terampil yang menjadi
bagian utama dari mekanime produksi (dalam arti luas) yang harus lebih efektif
dan efisien
b)
Pemimpin dan manager yang efektif,
yang memiliki kemampuan berpikir, mengambil keputusan yang tepat pada waktunya
serta mengendalikan pelaksanaan dengan cakap dan berwibawa.
2. Upaya Mengantisipasikan Masa
Depan
Sesuai dengan penjelasan UU RI No. 2 Tahun 1989,
fungsi pendidikan diarahkan bukan hanya untuk pembangunan manusia saja tetapi
juga ikut serta dalam pembangunan masyarakat. Oleh karena itu upaya untuk
mengantisipasi masa depan melalui pendidikan akan diarahkan pada:
a.
Perubahan Nilai dan Sikap
Nilai dan sikap memegang peranan penting dalam
menentukan wawasan dan perilaku manusia. Nilai merupakan norma, acuan yang
seharusnya, dan tahu kaidah
yang akan menjadi rujukan
perilaku. Nilai-nilai tersebut dapat besumber dari berbagai hal, seperti agama,
hukum, adat-istiadat, moral dan sebagainya. Dalam sikap dapat dibedakan tiga
aspek, yaitu:
1)
Aspek kognitif seperti pemahaman tentang objek sikap
2)
Aspek afektif yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan dapat sangat
subjektif sperti setuju atau tak setuju, suka atau benci, dan sebagainya.
3)
Aspek konatif yang mendorong untuk bertindak sesuai dengan sikap
terhadap objek tersebut.
Pembentukan/pengubahan nilai dan sikap dalam diri
seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pembiasaan, internalisasi
nilai melalui ganjaran hukuman, keteladanan (modelling), teknik klarifikasi
nilai, dan sebagainya. Hasil belajar berupa nilai dan sikap dapat dikategorikan
dalam kawasan (ranah) afektif. Tujuan taksonomi pendidikan dalam ranah afektif
tersebut dikemukakan antara lian oleh Krathwohl, Bloom, dan Masia (1964, dari
Bloom, Hastings, dan Madaus, 1971:229) yang menekankan proses internalisasi
yang kontinu dari yang rendah sampai yang tertinggi sebagai berikut:
1)
Penerimaan (receiving, attending)
2)
Penanggapan (responding)
3)
Penilaian, peyakinan (valuing)
4)
Pengorganisasian, konseptualisasi (organization)
5)
Perwatakan, pameran (characterization)
Perubahan nilai dan sikap dalam rangka
mengantisipasi masa depan haruslah diupayakan sedemikian rupa sehingga dapat
diwujudkan keseimbangan dan keserasian antara aspek pelestarian dan aspek
pembaruan. Pendidikan harus selalu menjaga secara seimbang pembentukan
kemampuan mempertanyakan, disamping kemampuan menerima dan mempertahankan. Keserasian dan keselarasan antara pelestarian dan
pembaruan nilai dan sikap akan memeberi peluang keberhasilan menjemput masa
depan itu.
b.
Pengembangan Kebudayaan
Salah satu upaya penting dalam mengantisipasi masa
depan adalah upaya yang berkaitan dengan pengembangan kebudayaan dalam arti
luas, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan sarana kehidupan manusia. Dewasa
ini, kita tidak mungkin menutup diri terhadap pengaruh kebudayaan lain. Oleh
karena itu, yang dibutuhkan adalah memperkuat ketahanan budaya, sehingga dapat
memanfaatkan pengaruh positif serta menghindari pengaru negatif dari kebudayaan
tersebut. Peranan pendidikan merupakan faktor menentukan dalam membangun dan
memperkuat ketahanan budaya tersebut.
UNESCO telah menetapkan konsep dasawarsa kebudayaan
sedunia yang menekankan bahwa pengembangan kebudayaan dunia masa kini harus
meliputi empat dimensi (Makaminan Makagiansar, 2990: 7) yakni:
1)
Afirmasi astau penegasan buadaya dalam proses pembangunan, karena
pembangunan akan hampa jika tidak diilhami oleh kebudayaan masyarakat/bangsa
yang bersangkutan.
2)
Mereafirmasi dan mengembangkan identitas budaya, dan setiap kelompok
manusia berhak diakui identitas budayanya.
3)
Partisipasi, yakni dalam pengembangan suatu bangsa adalah mutlak perlu.
4)
Memajukan kerja sama budaya
antarbangsa yang merupakan tuntutan mutlak dalam era globalisasi.
c.
Pengembangan Sarana Pendidikan
Khusus untuk menyongsong era globalisasi yang makin
tidak terbendung, terdapat beberapa hal yang secara khusus memerlukan perhatian
dalam bidang pendidikan. Santoso S. Hamijoyo mengemukakan lima strategi dasar
dalam era globalisasi tersebut yaitu:
1)
Pendidikan untuk pengembangan iptek dipilih terutama dalam bidang yang
vital seperti manufakturing pertanian, sebagai modal utama menghadapi
globalisasi.
2)
Pendidikan untuk pengembangan keterampilan manajemen, termasuk
penguasaan bahasa asing yang relevan untuk hubungan perdagangan dan politik,
sebagai instumen operasional untuk berkiprah dalam globalisasi.
3)
Pendidikan untuk pengolahan kependudukan, lingkungan, keluarga
berencana, dan kesehatan sebagai penangkal terhadap menurunnya kualitas hidup dan
hancurnya sistem pendukung kehidupan manusia.
4)
Pendidikan untuk pengembangan sistem nilai, termasuk filsafat, agama dan
ideologi demi ketahanan sosial-budaya termasuk persatuan dan kesatuan bangsa.
5)
Pendidikan untuk mempertinggi mutu tenaga kependidikan dan pelatihan,
termasuk pengelola sistem pendidikan formal dan nonoformal, demi penggalakan
peningkatan pemerataan mutu, relevansi, dan efisiensi sumber daya manusia
secara keseluruhan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendidikan selalu merupakan
penyiapan peserta didik bagi peranan di masa yang akan datang. Dengan demikian,
pendidikan seharusnya selalu mengantisipasi keadaan masyarakat masa depan.
Perubahan keadaan masyarakat masa depan yang berlangsung dengan cepat mempunyai
beberapa karateristik umum yang dapat dijadikan petunjuk sebagai ciri
masyarakat di masa depan yaitu:
1. Kecenderungan globalisasi yang makin kuat.
2. Perkembangan iptek yang makin cepat.
3. Perkembangan arus informasi yang makin padat dan
cepat.
4. Kebutuhan/tuntutan peningkatan layanan
profesional dalam berbagai segi kehidupan manusia.
Keseluruhan hal itu telah mulai tampak pengaruhnya masa kini, serta
diperkirakan akan makin penting
peranannya di masa depan.
Masyarakat masa depan dengan ciri globalisasi,
kemajuan iptek, dan kesempatan menerima arus informasi yang padat dan cepat,
dan sebagainya, telah memerlukan warga yang mau dan mampu menghadapi segala
permasalahan serta siap menyesuaikan diri dengan situasi baru tersebut.
Pendidikan berkewajiban mempersiapkan generasi baru yang sanggup menghadapi
tantangan zaman baru yang akan datang. Pengembangan pendidikan dalam masyarakat
yang sedang berubah dengan cepat haruslah dilakukan secara menyeluruh dengan
pendekatan sistematik-sistematik. Pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya merupakan kunci keberhasilan bangsa dan negara Indonesia
dalam abad 21 yang akan datang untuk itu diperlukan:
1. Tuntutan bagi manusia masa depan.
2. Upaya mengantisipasi masa depan, utamanya yang
berhubungan dengan perubahan nilai dan sikap sebagai manusia modern,
pengembangan kehidupan dan kebudayaan, serta pengembangan sarana pendidikan.
Daftar
Pustaka
Tirtarahardja U dan La Sulo .2005.Pengantar
Pendidikan, Jakarta: Rineka Ci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar